Jumat, 20 April 2012

BAHAYANYA SIFAT EGOIS

BAHAYANYA SIFAT EGOIS
Oleh: Ponda Samarkandi

Di dalam kehidupan ini, banyak manusia yang meanggap dirinya lebih dari orang lain, baik itu dari segi ilmu, kekayaan, derajat dan lainnya. Hal tersebut merupakan wujud dari keaku-akuan seseorang. Keaku-akuan adalah sifat yang dimiliki manusia dengan menganggap dirinya lebih dari orang lain dan meremehkan orang lain, karenanya orang yang beraku-aku itu seringkali menolak kebenaran, apalagi bila kebenaran itu datang dari orang yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya, Rasulullah Saw bersabda: “Sombong itu adalah menolak kebenaran dan dan menghina orang lain” (HR.Muslim).

 
Iblis adalah salah satu makhluk yang merasa paling tinggi kedudukannya dari manusia, sehingga ketika ia disuruh bersujud oleh Allah SWT ia mengingkari perintah tersebut, sebagaimana firman Allah SWT:  “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang sujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu Aku menyuruhmu?. Iblis menjawab: aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman: turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina (QS. Al-A’raf [7]: 11-13).
Itulah kemaksiatan pertama yang diperbuat oleh makhluk terhadap Kholiknya, yakni sikap keaku-akuan, angkuh, takabur dan tinggi hati. Sifat-sifat tercela itu pula yang secara perlahan mendorong manusia menentang perintah Allah dan mengingkari karunia yang telah dilimpahkan kepadanya.
Hal serupa juga terjadi pada Fir’aun, ketika keaku-akuan dan tipu daya setan menguasai dirinya, kekayaan, kemuliaan dan kekuatan terkumpul dalam genggaman kekuasaannya, dia berkata: “Akulah raja diraja Mesir. Tidakkah kalian saksikan sungai Nil itu mengalir di bawah kaki dan kekuasaanku?” Kemudian dia menyatakan dirinya sebagai penguasa tunggal, penguasa tertinggi yang berhak menentukan segalnya. Sebagaimana ucapan Fir’aun dalam firman Allah: “Akulah tuhan kalian yang maha tinggi”. (QS. An-Nazi’at [79]: 24)
Demikian juga yang terjadi pada Qorun, ketika harta kekayaan yang dimilikinya menyebabkan ia beraku-aku, sehingga ia mengatakan bahwa harta yang ia peroleh adalah hasil jerih payah dan ilmunya sendiri. Karena keangkuhan dan sifat keaku-akuannya itulah, Qorun ditenggelamkan oleh Allah bersama hartanya.
Ada beberapa faktor seseorang itu beraku-aku, di antaranya adalah:
Pertama: Nasab Keturunan. Orang yang punya nasab keturunan tinggi menganggap hina orang yang lebih rendah keturunannya, sekalipun ia lebih tinggi ilmu dan amalnya. Kadang sebagian mereka menyombongkan diri dan enggan bergaul serta duduk bersama mereka. Rasulullah bersabda: "Hendaklah orang meninggalkan kebanggan terhadap nenek moyang mereka yang telah menjadi batu bara di neraka."(HR. Abu Daud)
Kedua: Harta Kekayaan. Hal ini biasanya terjadi dikalangan para raja, pemimpin, para konglomerat, pengusaha, tuan tanah, dan para pejabat negara serta keluarga mereka. Mereka membanggakan kedudukan dan hartanya sehingga merendahkan dan melecehkan orang lain.
Ketiga: Ilmu Pengetahuan. Seseorang yang berilmu pengetahuan mudah merasa tinggi dengan ilmu pengetahuannya. Ia merasa paling mulia diantara manusia. Ia memandang dirinya lebih tinggi dan lebih mulia disisi Allah ketimbang yang lainnya. Hal demikian bisa terjadi karena ilmu yang didapat lebih berorientasi pada duniawi semata, tanpa dilandasi keikhlasan dan pensucian jiwa dalam menuntutnya. Sebab ilmu yang didapat dengan ikhlas karena Allah dan hati yang jujur akan melahirkan sikap tawadhu' dan rasa takut kepada Allah. Belajarlah seperti tanaman padi, semakin berisi semakin merunduk.
Keempat: Amal dan Ibadah. Orang yang merasa amal ibadahnya lebih kuat merasa dialah yang akan selamat dari siksa, sedangkan orang yang amal ibadahnya kurang akan dapat siksa. Sabda Rasulullah SAW: "Cukuplah seseorang dinilai telah berbuat kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim" (HR. Muslim)
Kelima: Kecantikan dan Ketampanan. Kecantikan dan ketampanan seseorang bisa meyebabkan dirinya sombong dengan cara merendahkan dan menyebut-nyebut keburukan rupa orang lain. Ia beranggapan bahwa dirinyalah yang paling cantik atau paling tampan di dunia ini, sedangkan yang lain jelek.
Kelima faktor tersebutlah yang membuat seseorang beraku-aku. Ketika ia seorang keturunan raja, berpengetahuan, memiliki kekayaan, jabatan dan ketampanan, maka ia akan meanggap rendah orang lain. Ia merasa bahwa hanya dirinya saja yang mulia dan patut untuk dihormati. Akibatnya banyak dampak negatif atau bahaya dari sikap keaku-akuan ini, di antaranya:
Pertama, Tidak senang pada saran apalagi kritik, hal ini disebabkan ia sudah merasa sempurna, tidak punya kekurangan, apalagi bila keaku-akuan itu tumbuh karena usianya yang sudah tua dengan segudang pengalaman, ia akan menyombongkan diri kepada orang yang muda, atau sombong karena ilmunya banyak dengan gelar kesarjanaan.
Kedua, Tidak senang terhadap kemajuan yang dicapai orang lain, hal ini karena apa yang menjadi sebab kesombongannya akan tersaingi oleh orang itu yang menyebabkan dia tidak pantas lagi berlaku sombong, karenanya orang seperti ini biasanya menjadi iri hati (hasad) terhadap keberhasilan, kemajuan dan kesenangan yang dicapai orang lain, bahkan kalau perlu menghambat dan menghentikan kemajuan itu dengan cara-cara yang membahayakan seperti memfitnah, permusuhan hingga pembunuhan.
Ketiga, Menolak kebenaran meskipun ia meyakininya sebagai sesuatu yang benar, hal ini difirmankan Allah SWT di dalam Al-Qur’an: “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan” (QS. An-Naml [27]: 14).
Keempat, Keaku-akuan membawa kepada kehinaan, sebagaimana firman Allah SWT: “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya: “Jadilah kamu kera yang hina”. (QS. Al-A’raf [7]: 166). Ayat ini menggambarkan bahwa orang yang memiliki sikap keaku-akuan (sombong) diibaratkan sebagai kera yang hina.
Kelima, Orang yang beraku-aku akan dibenci Allah SWT dan menyebabkannya tidak akan masuk surga. Allah SWT berfirman: “Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong” (QS.An-Nahl [16]: 23).
Keenam, Orang yang keaku-akuan atau sombong akan menjadi penghuni neraka, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan”. (HR. Muslim).
Betapa besar dampak yang dimunculkan akibat dari keaku-akuan dan kesombongan seseorang. Maha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya harta, ilmu, kecantikan atau ketampanan merupakan nikmat yang engkau berikan kepada kami. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang selalu mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya kepada kita, dan mudah-mudahan kita dijauhkan dari sikap keaku-akuan, karena itu merupakan sifat setan dan sangat dimurkai Allah…Amin ya rabbal ‘alamin…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar